Menurut Budi, sinergi lintas sektor menjadi kunci agar korban tidak merasa sendirian ketika menghadapi persoalan kekerasan.
Dengan adanya pemahaman yang sama, setiap pihak diharapkan mampu mengetahui langkah yang harus dilakukan ketika menemukan atau menerima laporan dugaan kekerasan terhadap perempuan dan anak.
Sementara itu, Ketua Forum PUSPA (Partisipasi Publik untuk Kesejahteraan Perempuan dan Anak) Lampung Barat Emilia Sari mengatakan pelatihan PFA menjadi bagian penting dalam memperkuat sistem perlindungan perempuan dan anak di daerah.
Dia menilai korban kekerasan membutuhkan lebih dari sekadar penanganan fisik dan hukum. Korban juga membutuhkan rasa aman, dukungan emosional, serta seseorang yang mampu mendengarkan tanpa menghakimi.
“Korban kekerasan membutuhkan kehadiran orang-orang yang mampu mendengarkan, memberikan rasa aman dan tidak menghakimi. Karena itu, keterampilan Psychological First Aid sangat penting dimiliki oleh para pendamping maupun pihak-pihak yang berada di lingkungan korban,” ujar Emilia.
Emilia berharap pelatihan tersebut menjadi momentum untuk memperkuat jejaring perlindungan perempuan dan anak di Lampung Barat.
Menurutnya, pemerintah, sekolah, fasilitas kesehatan, organisasi masyarakat dan Forum PUSPA perlu memiliki koordinasi yang semakin kuat, baik dalam upaya pencegahan maupun ketika terjadi kasus kekerasan.
“Kita ingin membangun lingkungan yang benar-benar ramah dan aman bagi anak serta perempuan. Ketika terjadi kekerasan, korban harus tahu ke mana mencari pertolongan dan mendapatkan pendampingan yang cepat, tepat dan manusiawi,” tambahnya.
Pelatihan tersebut diikuti perwakilan dari berbagai unsur, di antaranya puskesmas, satuan pendidikan tingkat SMP, SMA, SMK dan MA, serta organisasi masyarakat.
Para peserta juga mendapatkan pembekalan dari narasumber Biro Satria Mahija yang memiliki pengalaman di bidang psikologi dan pendampingan psikososial.
Melalui pelatihan ini, peserta diharapkan tidak hanya memahami konsep PFA, tetapi juga mampu menerapkannya ketika memberikan pendampingan kepada korban di lapangan.
Dukungan psikologis awal yang diberikan secara tepat diharapkan dapat membantu korban merasa lebih aman, didengar dan dihargai. Dengan demikian, korban memiliki ruang yang lebih baik untuk menjalani proses pemulihan.