BANDAR LAMPUNG – Kualitas udara di Kota Bandar Lampung terpantau masuk kategori tidak sehat. Partikulat halus PM2,5 menjadi salah satu penyumbang utama meningkatnya polusi udara di ibu kota Provinsi Lampung tersebut.
Berdasarkan data pemantauan IQAir pada pukul 08.00 WIB, indeks kualitas udara atau Air Quality Index (AQI) Bandar Lampung mencapai 125 AQI US. Sementara itu, konsentrasi PM2,5 tercatat sebesar 45,1 μg/m³.
Pemantauan pada pukul 11.39 WIB menunjukkan kondisi yang relatif sama. AQI Bandar Lampung tercatat berada di angka 124 AQI US dengan konsentrasi PM2,5 mencapai 45 μg/m³.
Kondisi kualitas udara tersebut juga terpantau melalui stasiun Air Quality Monitoring System (AQMS) milik pemerintah yang berada di kawasan Sukarame, tepatnya di belakang Kantor Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Bandar Lampung.
Menanggapi kondisi tersebut, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bandar Lampung meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kenaikan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), terutama di tengah kondisi cuaca kemarau.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Bandar Lampung, Muhtadi Arsyad Temenggung, mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan, khususnya ketika melakukan aktivitas di luar ruangan.
"Untuk masyarakat, kami menghimbau agar menggunakan masker saat beraktivitas di luar rumah dan memperbanyak minum air putih. Kondisi udara saat ini sedang tidak baik," ujar Muhtadi, Selasa 25 Agustus 2026.
Menurut Muhtadi, penggunaan masker menjadi salah satu langkah perlindungan untuk mengurangi paparan polutan. Kewaspadaan juga perlu ditingkatkan oleh kelompok rentan, seperti balita, anak-anak, lansia, serta masyarakat yang memiliki riwayat gangguan pernapasan.
Dinkes Bandar Lampung juga tengah menghimpun data secara berkala dari seluruh Unit Pelaksana Teknis (UPT) Puskesmas untuk memantau kemungkinan hubungan antara penurunan kualitas udara, paparan debu selama musim kemarau, dan tren penyakit di masyarakat.
"Di masing-masing puskesmas ada data 10 besar penyakit. Jika angka ISPA tinggi, berarti ada keterkaitan langsung antara kualitas udara dan kondisi kemarau ini," jelasnya.
Terkait paparan debu di sejumlah titik rawan, seperti kawasan industri dan permukiman padat, Muhtadi memastikan fasilitas kesehatan tingkat pertama siap memberikan pelayanan promotif dan preventif kepada masyarakat.
Ia juga menekankan pentingnya akurasi data dan koordinasi lintas sektor sebelum menarik kesimpulan mengenai dampak kondisi lingkungan terhadap kesehatan masyarakat.