“Yang paling kami harapkan tentu hujan segera turun. Kalau kita melakukan pemupukan di tanah sementara tidak ada air, justru bisa kurang maksimal karena pupuk membutuhkan air untuk melarutkannya,” katanya.
Meski demikian, sebagian petani yang memiliki kemampuan modal tetap berupaya mempertahankan kondisi tanaman dengan melakukan pemupukan melalui penyemprotan pada bagian daun.
“Sebagian petani yang memiliki modal untuk membeli obat atau pupuk mencoba melakukan penyemprotan melalui daun. Itu salah satu upaya yang bisa dilakukan untuk membantu tanaman bertahan di tengah kondisi seperti sekarang,” ungkapnya.
Arif berharap kemarau tidak berlangsung semakin panjang sehingga tanaman kopi milik masyarakat tidak mengalami kerusakan yang lebih parah.
Hujan memang sempat turun dalam bentuk gerimis pada Rabu (9/9). Namun, menurutnya, kondisi tersebut belum banyak membantu karena setelah gerimis justru suhu udara kembali terasa lebih panas akibat uap dari permukaan tanah.
“Kami berharap hujan segera turun dan kondisi kembali normal. Karena kalau kemarau berkepanjangan, bukan hanya tanaman yang terdampak, tetapi penghasilan masyarakat yang sebagian besar bergantung pada kopi juga ikut terancam,” pungkasnya.