PESISIR BARAT – Upaya penanggulangan tuberkulosis (TBC) di Kabupaten Pesisir Barat (Pesbar) terus diperkuat. Hingga capaian Program Tuberkulosis 2026, Dinas Kesehatan (Dinkes) Pesbar mencatat 168 kasus TBC telah ditemukan dari target 455 kasus.
Capaian tersebut baru mencapai 36,92 persen. Karena itu, penemuan kasus secara aktif masih menjadi salah satu fokus utama dalam mempercepat pengendalian penyakit menular tersebut.
Kepala Dinkes Pesbar Septono, S.KM., M.M., melalui Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Lisma Yunita, S.ST., M.M., mengatakan penanganan TBC tidak berhenti setelah pasien terdiagnosis.
Menurutnya, penemuan kasus sedini mungkin harus terus didorong agar masyarakat yang terinfeksi segera mendapatkan pengobatan. Langkah tersebut juga penting untuk mencegah penularan yang lebih luas di lingkungan tempat tinggal maupun komunitas.
“Penemuan kasus harus terus ditingkatkan melalui skrining terhadap masyarakat yang memiliki gejala maupun kelompok yang memiliki risiko lebih tinggi terkena TBC. Semakin cepat kasus ditemukan, semakin cepat pula pasien mendapatkan pengobatan dan upaya pencegahan penularan dapat dilakukan,” katanya, Rabu, 16 September 2026.
Berdasarkan data program, penemuan terduga TBC di Pesbar telah mencapai 1.577 orang dari target 2.238 orang atau 70,46 persen.
Angka tersebut menunjukkan proses penjaringan telah berjalan. Namun, masih terdapat selisih dari target yang ditetapkan sehingga Dinkes Pesbar akan terus memperluas skrining dan penelusuran.
Dengan demikian, terduga TBC yang ditemukan dapat segera menjalani pemeriksaan lanjutan untuk memastikan status penyakitnya.
“Capaian penemuan terduga TBC di tingkat fasilitas pelayanan kesehatan juga menunjukkan hasil yang beragam,” ujarnya.
Lisma menjelaskan, Puskesmas Pulau Pisang mencatat capaian 38 orang dari target 25 orang atau 152 persen. Sementara itu, Puskesmas Ngaras menemukan 124 terduga dari target 129 orang atau 96,12 persen.
Di sisi lain, masih terdapat sejumlah fasilitas pelayanan kesehatan yang capaiannya belum memenuhi target. Karena itu, penguatan kegiatan skrining dan investigasi kasus masih diperlukan.
“Salah satu strategi yang terus ditekankan dalam percepatan penanggulangan TBC adalah mengoptimalkan investigasi kontak terhadap pasien yang telah terdiagnosis,” jelasnya.