Ia juga mengingatkan bahwa jabatan dalam kepengurusan Gudep bukanlah ruang untuk mencari keuntungan materi. Tidak ada gaji maupun fasilitas seperti mobil dinas yang menjadi imbalan bagi Ketua Gudep.
Sebaliknya, kepengurusan Gudep membutuhkan pengorbanan berupa waktu, tenaga, pikiran, perasaan, bahkan tidak jarang dana pribadi untuk kepentingan pembinaan peserta didik.
Karena itu, Junaidi menegaskan, Gudep yang besar tidak dibangun hanya berdasarkan kedekatan, tetapi melalui komitmen dan pengabdian yang kuat.
“Gugus Depan yang besar tidak dibangun oleh kedekatan, tapi dibangun oleh komitmen yang tidak bisa ditawar: Ikhlas Bakti Bina Bangsa, Berbudi Bawa Laksana,” tegasnya.
Ia menjelaskan, Ikhlas Bakti Bina Bangsa mengandung makna pengabdian yang dilakukan dengan tulus tanpa pamrih, tanpa mengharapkan imbalan, jabatan maupun pujian.
Semangat tersebut menjadi bagian dari jiwa relawan Pramuka dalam memberikan pengabdian bagi kepentingan bangsa. Sementara Bina Bangsa menjadi tujuan dari pengabdian tersebut melalui pembinaan, latihan dan kegiatan kepramukaan untuk membentuk generasi muda yang tangguh.
Dengan demikian, Ikhlas Bakti Bina Bangsa dimaknai sebagai mengabdi dengan tulus tanpa pamrih untuk membangun bangsa.
Sementara semboyan Berbudi Bawa Laksana, lanjut Junaidi, menekankan pentingnya keselarasan antara budi pekerti dan perbuatan.
Berbudi berarti memiliki budi pekerti luhur, akhlak mulia serta pikiran yang baik. Sedangkan Bawa Laksana menegaskan bahwa tindakan seseorang harus mencerminkan keluhuran budi tersebut.
“Jadi bukan hanya pintar berkata-kata atau berteori, tapi perbuatannya nyata,” pungkasnya.
Dengan terbentuknya kepengurusan baru hasil Musgus, Gugus Depan SMP IT Daarul Qudwah diharapkan semakin solid dan mampu menjadi wadah pembinaan karakter, kedisiplinan, kemandirian serta kepemimpinan peserta didik melalui Gerakan Pramuka.
Ketua Mabigus SMP IT Daarul Qudwah, Eska Ayu Wardani, menyampaikan apresiasi atas dukungan berbagai pihak sehingga Musgus pertama tersebut dapat terlaksana.