BANDAR LAMPUNG – Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati, Dwi Marlina Syukri, PhD, mendapat undangan sebagai pembicara internasional dalam konferensi Natural Products atau NATPRO10 yang berlangsung di Jeju Island, Korea Selatan, pada 4–6 November 2026.
Tidak hanya hadir sebagai pembicara, Dwi juga membawa mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati untuk berpartisipasi dalam forum ilmiah internasional tersebut.
Salah satu mahasiswa, Karenina Mutiara Antoni, berhasil meraih Juara II dalam kompetisi poster ilmiah NATPRO10.
Pencapaian ini menjadi bagian dari kontribusi akademisi dan mahasiswa Universitas Malahayati dalam memperkenalkan hasil penelitian di tingkat internasional, khususnya pada bidang bahan alam (natural products), mikrobiologi, dan pengembangan teknologi kesehatan.
NATPRO10 merupakan konferensi internasional yang diprakarsai oleh ASNP (The Asian Society of Natural Products), sebuah asosiasi ilmiah yang berfokus pada pengembangan penelitian, inovasi, dan pemanfaatan produk bahan alam untuk mendukung kemajuan ilmu pengetahuan dan kesehatan.
ASNP memiliki jejaring akademisi dan peneliti lintas negara di kawasan Asia, termasuk Thailand, Jepang, Indonesia, Korea Selatan, Vietnam, Filipina, dan Malaysia.
Organisasi ini menjadi wadah bagi para akademisi dan peneliti untuk bertukar pengetahuan, membangun kolaborasi, serta mengembangkan potensi sumber daya alam melalui pendekatan ilmiah yang inovatif dan berkelanjutan.
Dwi Marlina Syukri saat ini juga mengemban amanah sebagai Director of ASNP Chapter Indonesia.
Posisi tersebut menjadi bentuk kepercayaan terhadap kapasitas akademik, pengalaman penelitian, serta kontribusinya dalam pengembangan ilmu bahan alam.
Dalam peran tersebut, Dwi turut mendorong kolaborasi ilmiah dan memperkuat jejaring penelitian antara Indonesia dengan komunitas peneliti internasional.
Sebagai Director ASNP Chapter Indonesia, ia juga memiliki peran dalam memperkenalkan potensi biodiversitas Indonesia kepada komunitas penelitian global.
Indonesia dikenal memiliki keanekaragaman hayati yang berpotensi dikembangkan menjadi sumber kandidat bahan obat, agen antibakteri, antioksidan, hingga berbagai produk kesehatan lainnya.