Dugaan Overdosis Narkoba Usai Organ Tunggal Jadi Sorotan, PGK dan Bara JP Angkat Suara

Rentetan korban yang diduga berkaitan dengan penyalahgunaan narkoba memicu desakan agar pengawasan dan pencegahan diperkuat.
Hasan Saputra - Rabu, 03 Jun 2026 - 15:13 WIB
Ketua PGK dan Bara JP Kabupaten Way Kanan menyoroti munculnya kembali korban yang diduga berkaitan dengan penyalahgunaan narkoba serta mendesak langkah pencegahan yang lebih efektif
Ketua PGK dan Bara JP Kabupaten Way Kanan menyoroti munculnya kembali korban yang diduga berkaitan dengan penyalahgunaan narkoba serta mendesak langkah pencegahan yang lebih efektif - Foto Istimewa

Follow Us:

Media Lampung WhatsApp Channels
Advertisements

WAY KANAN – Munculnya kembali korban yang diduga berkaitan dengan penyalahgunaan narkoba setelah menghadiri hiburan organ tunggal pada malam hari memicu kritik dari sejumlah elemen masyarakat. Mereka menilai langkah antisipasi dan pengawasan yang dilakukan aparat penegak hukum belum berjalan maksimal sehingga peristiwa serupa terus berulang.

Sorotan tersebut muncul setelah beredarnya informasi mengenai dugaan dua orang mengalami overdosis dan satu orang meninggal dunia usai menghadiri acara organ tunggal di Kampung Tanjung Dalom, Kecamatan Bumi Agung. Sebelumnya, kejadian serupa juga dilaporkan terjadi di wilayah Tanjung Raja Sakti yang menyebabkan seorang warga meninggal dunia.

Rentetan peristiwa tersebut memunculkan pertanyaan di tengah masyarakat terkait efektivitas pengawasan dan upaya pencegahan yang selama ini dilakukan. Pasalnya, langkah penertiban hiburan malam baru menjadi sorotan setelah muncul korban yang diduga berkaitan dengan penyalahgunaan narkoba.

Ketua Dewan Pengurus Daerah (DPD) Perkumpulan Gerakan Kebangsaan (PGK) Kabupaten Way Kanan, Yogi Wahyudi, SH, menilai kejadian yang berulang menjadi indikator bahwa upaya pencegahan belum berjalan secara optimal.

Advertisements

"Yang menjadi pertanyaan masyarakat hari ini sederhana. Jika pengawasan dan penertiban memang sudah rutin dilakukan, mengapa kejadian serupa masih terus berulang hingga memakan korban? Jangan sampai tindakan yang dilakukan selalu datang setelah muncul korban, bukan sebelum korban terjadi," tegas Yogi.

Menurutnya, tugas aparat penegak hukum tidak hanya melakukan penindakan setelah persoalan membesar, tetapi juga memastikan berbagai potensi ancaman dapat dicegah sejak dini.

"Kita tidak sedang berbicara tentang pelanggaran administrasi biasa. Yang menjadi perhatian adalah adanya dugaan penyalahgunaan narkoba yang telah dikaitkan dengan lebih dari satu peristiwa dan bahkan menimbulkan korban jiwa. Seharusnya langkah antisipasi dilakukan jauh sebelum situasi seperti ini terjadi," ujarnya.

Pandangan serupa disampaikan Ketua Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Barisan Relawan Jalan Perubahan (Bara JP) Kabupaten Way Kanan, Rahmat Iparia. Ia menilai masyarakat memiliki hak untuk mempertanyakan efektivitas sistem pengawasan yang selama ini diterapkan.

Advertisements

"Ketika korban terus muncul, tentu publik akan bertanya apakah sistem pengawasan yang ada sudah benar-benar efektif atau belum. Jangan sampai setiap kali ada korban, baru muncul langkah-langkah yang seharusnya bisa dilakukan sejak awal," kata Rahmat.

Rahmat menegaskan, fokus utama yang perlu dilakukan bukan hanya membatasi jam operasional hiburan malam, tetapi juga memastikan dugaan peredaran dan penyalahgunaan narkoba dapat dicegah serta ditindak secara serius.

"Yang ditunggu masyarakat adalah langkah konkret agar korban berikutnya tidak muncul lagi. Karena yang hilang bukan sekadar angka statistik, tetapi nyawa manusia," tegasnya.

PGK dan Bara JP menilai rentetan kejadian tersebut harus menjadi bahan evaluasi serius bagi seluruh pihak terkait. Keduanya meminta aparat penegak hukum tidak hanya hadir setelah muncul korban, tetapi mampu membangun sistem pengawasan dan pencegahan yang efektif guna meminimalkan potensi kejadian serupa di Kabupaten Way Kanan.

Advertisements

Share:
Editor: Budi Setiawan
Source:
Advertisements

Baca Juga

Rekomendasi

Advertisements

Berita Populer

  1. #1
  1. #2
  1. #3
  1. #4
  1. #5
Advertisements

Berita Terbaru

Advertisements

Berita Pilihan

Advertisements

Topik Populer

  1. #1
  1. #2
  1. #3
  1. #4
  1. #5
Advertisements

Foto Terbaru

Video Terbaru

Advertisements