BANDAR LAMPUNG – BMW RS 255 Kompressor menjadi salah satu sepeda motor balap paling berpengaruh dalam sejarah otomotif dunia.
Hadir pada era 1930-an, motor ini memperlihatkan kemajuan teknologi BMW Motorrad melalui penggunaan mesin boxer dua silinder yang dipadukan dengan sistem supercharger atau kompresor, sebuah inovasi yang tergolong sangat maju pada zamannya.
Keunggulan BMW RS 255 Kompressor tidak hanya tercermin dari performanya di lintasan balap, tetapi juga dari torehan sejarah yang berhasil diukir.
Motor ini mengantarkan pembalap Georg "Schorsch" Meier meraih kemenangan bergengsi pada ajang Isle of Man Senior TT 1939, sekaligus menjadi pembalap non-Inggris pertama yang berhasil menjuarai kelas utama dalam kompetisi tersebut.
Pada pertengahan dekade 1930-an, BMW Motorrad memiliki ambisi besar untuk bersaing di ajang Grand Prix dan Tourist Trophy yang saat itu didominasi pabrikan asal Inggris.
Untuk mewujudkan target tersebut, BMW mengembangkan Type 255 atau lebih dikenal sebagai RS 255 Kompressor.
Motor balap ini dibekali mesin boxer dua silinder horizontal berkapasitas sekitar 500 cc yang dipadukan dengan supercharger Zoller guna meningkatkan tekanan udara ke ruang pembakaran.
Teknologi tersebut menghasilkan tenaga jauh lebih besar dibandingkan motor balap sekelasnya pada masa itu, sehingga BMW RS 255 Kompressor menjadi salah satu motor paling canggih sebelum Perang Dunia II.
BMW RS 255 Kompressor mengandalkan mesin boxer dua silinder DOHC berpendingin udara dengan kapasitas 492,6 cc.
Keunggulan utamanya terletak pada penggunaan supercharger Zoller yang mampu meningkatkan efisiensi pembakaran sekaligus mendongkrak performa mesin hingga menghasilkan tenaga sekitar 55 hingga 60 hp pada putaran 7.000 rpm.
Seluruh tenaga tersebut disalurkan melalui transmisi manual empat percepatan dengan sistem penggerak poros atau shaft drive, teknologi yang hingga kini masih menjadi ciri khas sepeda motor BMW.
Berkat kombinasi mesin bertenaga dan bobot yang relatif ringan, BMW RS 255 Kompressor mampu melesat dengan kecepatan lebih dari 200 km/jam, menjadikannya salah satu motor tercepat pada era 1930-an.