BANDAR LAMPUNG – Persoalan paparan debu di sekitar kawasan operasional PT Semen Baturaja kembali menjadi perhatian warga.
Selain mengeluhkan debu yang disebut masih terasa di lingkungan permukiman, masyarakat juga memiliki pengalaman berbeda mengenai penyaluran program tanggung jawab sosial perusahaan atau Corporate Social Responsibility (CSR).
Kawasan operasional perusahaan yang berada di sekitar Jalan Yos Sudarso hingga Jalan Soekarno-Hatta menjadi salah satu wilayah yang mendapat perhatian karena berdekatan dengan permukiman warga dan jalur yang kerap dilalui kendaraan bertonase besar.
Berdasarkan pantauan di lapangan pada siang, aktivitas produksi di sekitar pabrik tidak terdengar bising.
Namun, debu masih terlihat menempel di sejumlah area permukiman dan tepi jalan raya di kawasan industri tersebut.
Ketua RT 16 Lingkungan 2, Kelurahan Way Laga, Kecamatan Sukabumi, Chivu, mengatakan paparan debu paling terasa ketika terjadi aktivitas pengangkatan atau pemindahan bahan baku di lingkungan pabrik.
Rumah Chivu yang berada tepat di seberang area pabrik dan hanya dipisahkan Jalan Soekarno-Hatta membuatnya dapat mengamati aktivitas perusahaan dari dekat.
“Sebenarnya debu itu paling parah keluar pada saat mereka menaikkan bahan baku ke atas. Kalau masalah debu, warga di sini sebenarnya sudah kebal karena sudah merasakannya sejak tahun 80-an,” kata Chivu saat ditemui di depan kediamannya, Selasa 18 Agustus 2026.
Menurut Chivu, dirinya pernah menyampaikan keluhan secara langsung kepada pihak perusahaan terkait kepulan debu yang dinilai berlebihan.
Namun, respons yang diterima disebut berkaitan dengan adanya proses perbaikan fasilitas.
Ia juga menyebut keluhan kesehatan seperti batuk, pilek hingga ISPA pernah dirasakan warga di RT 15 dan RT 16.
Selain persoalan debu, Chivu mempertanyakan keberlanjutan program CSR perusahaan di wilayahnya.