Ia mengklaim bantuan rutin yang sebelumnya diterima warga sudah tidak berjalan sejak 2014.
“Terakhir kali CSR berjalan itu tahun 2014. Sejak saat itu sampai sekarang tidak berjalan lagi,” ungkapnya.
Chivu mengatakan sebelum 2014 warga di wilayahnya rutin mendapatkan sejumlah bantuan, mulai dari hewan kurban hingga paket sembako.
Namun, menurut dia, proposal kegiatan masyarakat belakangan lebih jarang mendapat respons. Bantuan berupa semen disebut sempat diberikan dalam beberapa kesempatan.
Ia mengaku mendapat informasi bahwa kewenangan terkait program tersebut berada di tingkat pusat perusahaan di Sumatera Selatan.
Kesaksian berbeda disampaikan warga Kelurahan Way Lunik, Kecamatan Panjang, yang tinggal tidak jauh dari pagar kawasan pabrik.
Siti Fatimah, warga yang telah menetap di wilayah tersebut sejak 1981, mengatakan keberadaan debu memang masih dirasakan.
Namun, menurutnya, kondisinya saat ini tidak separah masa ketika aktivitas produksi berlangsung penuh.
“Debu pasti selalu ada, tapi sekarang debunya sudah tidak seberapa parah dibanding zaman dulu. Dulu lebih parah. Barangnya sekarang dari Baturaja. Pabrik di sini sudah tidak produksi seperti dulu lagi,” terang Siti.
Berbeda dengan kesaksian warga Way Laga mengenai CSR, Siti mengatakan bantuan dari perusahaan masih diterima masyarakat di wilayahnya.
Bantuan tersebut antara lain berupa sembako menjelang Idulfitri, hewan kurban saat Iduladha serta dukungan terhadap kegiatan masyarakat dalam rangka memperingati HUT Kemerdekaan RI.
“Kalau bantuan ada terus. Alhamdulillah kemarin perusahaan memberikan bantuan beras. Kalau Lebaran Haji, mereka kurban sapi. Terus kalau Idul Fitri bagi-bagi sembako,” imbuhnya.