Karena itu, Parosil meminta pelaksanaan LCT pada tahun mendatang terus diperbaiki, baik dari sisi materi maupun teknis penyelenggaraan.
“Kegiatan LCT ini jangan cukup berhenti sampai dengan tahun ini saja. Untuk tahun 2027 harus dikemas dengan lebih apik lagi,” ujarnya.
Parosil juga meminta cakupan peserta diperluas. Ia berharap seluruh sekolah di Lampung Barat mendapat kesempatan mengikuti LCT pada pelaksanaan tahun depan, termasuk sekolah yang berada di bawah naungan Kementerian Agama.
“Untuk tahun depan harus semua sekolah yang berada di Lampung Barat diundang mengikuti LCT, baik yang di bawah naungan Dinas Pendidikan maupun Kementerian Agama,” tuturnya.
Sementara itu, Ketua TP PKK Lampung Barat Partinia Parosil Mabsus menilai LCT kategori PKK memiliki manfaat yang lebih luas. Menurutnya, kegiatan tersebut dapat menjadi sarana untuk melihat sejauh mana kader PKK di tingkat kecamatan aktif turun ke pekon memberikan pembinaan.
Partinia mengatakan, LCT bukan semata-mata menjadi ajang untuk mencari pemenang. Kegiatan tersebut juga menjadi ruang berbagi pengetahuan yang dapat meningkatkan kapasitas kader dalam menjalankan tugas di lapangan.
“Anggap saja hari ini kita arisan ilmu. Apa yang belum diketahui selama ini, Insya Allah hari ini akan mendapat transfer ilmu,” kata Partinia.
Ia menekankan bahwa kader PKK maupun posyandu tidak cukup hanya memiliki jabatan atau status sebagai kader. Mereka juga perlu memiliki pengetahuan yang memadai karena berhadapan langsung dengan masyarakat.
Salah satu persoalan yang membutuhkan pemahaman dan peran aktif kader di tingkat pekon adalah stunting. Karena itu, peningkatan kapasitas kader dinilai penting agar mereka mampu memahami persoalan mendasar yang dihadapi masyarakat.
“Kader harus cerdas dan memahami persoalan-persoalan mendasar yang ada di masyarakat,” pungkasnya. (*)