Sementara itu, guru senior Niatas menegaskan bahwa penyampaian aspirasi tersebut bukan bertujuan menjatuhkan pihak tertentu.
Menurutnya, para guru menginginkan suasana kerja yang nyaman dan kondusif agar kegiatan pendidikan dapat berjalan dengan baik.
“Kami tidak ada misi apa-apa. Kami hanya menginginkan kenyamanan dan suasana sekolah yang kondusif. Kalau kami berpura-pura nyaman padahal sebenarnya tidak merasa nyaman, untuk apa?” katanya.
Pernyataan para guru tersebut menggambarkan adanya persoalan hubungan kerja yang perlu mendapat perhatian.
Penyelesaian konflik diharapkan tidak hanya berfokus pada penentuan kepemimpinan, tetapi juga pembenahan komunikasi dan koordinasi di lingkungan sekolah.
Menanggapi berbagai keluhan tersebut, Hesti Kusumaningrum membantah bahwa langkah-langkah yang diambilnya selama memimpin sekolah semata-mata didasari persoalan pribadi.
Ia menjelaskan bahwa upaya yang dilakukan bertujuan menegakkan kedisiplinan dan membenahi administrasi sekolah, termasuk absensi serta kegiatan pembelajaran.
Hesti juga mengungkapkan bahwa keretakan hubungan dengan sejumlah guru bermula ketika dirinya menemukan percakapan dalam grup WhatsApp di laptop sekolah.
Menurut keterangannya, percakapan tersebut berisi pesan dengan bahasa yang tidak pantas dan ditujukan kepada dirinya serta suaminya.
“Saya hadir bukan untuk membuka aib teman-teman saya, demi Allah. Saya hanya mengkonfirmasi fakta yang terjadi. Masalah ini meruncing berawal saat saya membuka laptop sekolah dan melihat pesan grup WhatsApp yang belum tertutup dengan bahasa yang tidak pantas ditujukan kepada saya. Jika kita ditugaskan di suatu tempat, apapun tantangannya kita harus tetap bekerja profesional dan menegakkan kedisiplinan aturan,” kata Hesti.
Keterangan tersebut menjadi bagian dari penjelasan Hesti dalam RDP untuk merespons keluhan para guru.
Perbedaan pandangan mengenai kepemimpinan dan pola komunikasi di sekolah itu kini menjadi bagian dari persoalan yang perlu ditindaklanjuti oleh Dinas Pendidikan.