Menurutnya, kehadiran pemerintah tidak cukup sebatas seremonial, tetapi juga harus menjadi bentuk dukungan terhadap harapan dan inisiatif masyarakat dalam menyelenggarakan kegiatan yang bermanfaat.
"Apa yang dilakukan teman-teman santri dan pondok pesantren hari ini merupakan harapan pemerintah daerah," tegasnya.
Parosil juga mengingatkan bahwa pembangunan tidak semata-mata diukur dari perbaikan jalan dan infrastruktur fisik. Lebih dari itu, pembangunan harus dimulai dari pembenahan hati, pola pikir, dan karakter setiap individu.
"Membangun itu bukan hanya memperbaiki jalan, tetapi membangun itu adalah hati dan diri kita. Kalau hati kita, pikiran kita jelek, susah juga, cuman adanya praduga-praduga saja," ungkapnya.
Ia menilai turnamen futsal dapat menjadi sarana membentuk karakter generasi muda, terutama dalam menanamkan nilai sportivitas, kedisiplinan, tanggung jawab, dan sikap saling menghargai. Karena itu, seluruh pihak yang terlibat diminta menjunjung tinggi aturan selama kompetisi berlangsung.
Parosil secara khusus mengingatkan panitia agar penyelenggaraan turnamen perdana tersebut berjalan profesional dan menjunjung prinsip keadilan bagi seluruh peserta, tanpa mengutamakan tim tuan rumah.