"Harapan saya, karena ini baru pertama kalinya dilaksanakan, panitia bisa melaksanakannya dengan baik. Tidak ada kecenderungan ke tuan rumah, tapi semua diperlakukan dengan sistem dan aturan yang sama," katanya.
Ia juga menekankan pentingnya netralitas perangkat pertandingan, terutama wasit, agar setiap tim memperoleh perlakuan yang sama selama kompetisi.
"Wasit juga harus memperlakukan hal yang serupa. Termasuk tim, kalau mau menang semuanya pasti ingin menang, tetapi yang paling utama adalah silaturahmi," sambungnya.
Lebih lanjut, Parosil menyebut turnamen tersebut menjadi momentum untuk memperluas pandangan masyarakat terhadap peran santri. Menurutnya, santri tidak hanya berkegiatan dalam bidang keagamaan, tetapi juga memiliki kesempatan untuk berkembang dalam bidang olahraga, sosial, dan berbagai aspek kehidupan lainnya.
"Yang paling penting mempromosikan bahwa santri itu bukan hanya ngaji, tetapi urusan-urusan sosial, urusan olahraga juga diberikan perhatian," ujarnya.
Parosil turut mengapresiasi Pondok Pesantren YPI Roudlotus Sholihin yang bersedia menjadi tuan rumah. Ia menilai penyelenggaraan turnamen dengan jumlah peserta mencapai puluhan tim membutuhkan persiapan, komitmen, dan tanggung jawab yang besar.