32 Tahun Beroperasi di Salak, Star Energy Perkuat Energi Bersih dan Konservasi

Star Energy Geothermal Salak memperkuat pengembangan energi bersih sekaligus konservasi Halimun-Salak melalui restorasi habitat dan pemantauan keanekaragaman hayati.
Rinto Arius - Selasa, 18 Agt 2026 - 21:49 WIB
Star Energy Geothermal Salak memperkuat pengembangan energi panas bumi sekaligus konservasi ekosistem Halimun-Salak melalui restorasi habitat, pemantauan keanekaragaman hayati, dan pemberdayaan masyarakat.
Star Energy Geothermal Salak memperkuat pengembangan energi panas bumi sekaligus konservasi ekosistem Halimun-Salak melalui restorasi habitat, pemantauan keanekaragaman hayati, dan pemberdayaan masyarakat. - Foto Istimewa

Follow Us:

Media Lampung WhatsApp Channels
Advertisements

SUKABUMI – Lebih dari tiga dekade beroperasi di kawasan Salak, Star Energy Geothermal Salak Ltd. (SEGS) terus memperkuat kontribusinya terhadap penyediaan energi bersih sekaligus menjaga kelestarian ekosistem Halimun-Salak.

Hingga 2026, pembangkit panas bumi Salak memiliki kapasitas terpasang mencapai 403,2 megawatt (MW). Kapasitas tersebut berasal dari Unit 1, 2, dan 3 sebesar 180 MW, Unit 4, 5, dan 6 sebesar 208,7 MW, serta Binary Power Plant berkapasitas 14,5 MW yang mulai beroperasi pada 2025.

Ke depan, pengembangan Unit 7 berkapasitas 40 MW ditargetkan mulai beroperasi secara komersial pada Desember 2026. Dengan tambahan tersebut, kapasitas pembangkit panas bumi Salak diproyeksikan mencapai sekitar 443 MW.

Kepala Teknik Panas Bumi Star Energy Geothermal Salak Ltd., Irwan Januar K. Hasbullah, mengatakan pengalaman panjang dalam mengelola panas bumi di Salak menunjukkan pentingnya perspektif jangka panjang untuk menjaga keberlanjutan operasi.

Advertisements

“Selama lebih dari tiga dekade, Salak terus menghasilkan energi terbarukan yang andal sekaligus berkembang melalui peningkatan efisiensi dan optimalisasi sumber daya yang telah ada. Bagi kami, pertumbuhan juga harus berjalan dengan disiplin dalam membatasi footprint operasi serta menjaga ekosistem tempat kami beroperasi,” kata Irwan.

Dari wilayah kontrak sekitar 10.000 hektare, fasilitas panas bumi Salak hanya menggunakan sekitar 236 hektare atau kurang dari 2,4 persen. Lahan tersebut dimanfaatkan untuk fasilitas pembangkit, well pad, jalan akses, serta berbagai fasilitas pendukung operasi.

Upaya menjaga keberlanjutan juga dilakukan melalui program konservasi berbasis data. Beroperasi di bentang alam Halimun-Salak yang menjadi habitat berbagai spesies penting dan dilindungi membuat aspek konservasi menjadi bagian penting dalam pengelolaan SEGS.

Melalui Green Corridor Initiative, SEGS telah melakukan restorasi sekitar 275 hektare habitat dengan menanam sekitar 250.000 tanaman dari 30 jenis pohon asli Halimun-Salak.


Banner Parfum Shopee

Advertisements

Program tersebut tidak hanya diarahkan untuk meningkatkan tutupan vegetasi. Restorasi juga ditujukan untuk mengembalikan fungsi habitat sekaligus memperkuat konektivitas ekologis di kawasan tersebut.

Hasil pemantauan lingkungan pada periode 2023-2025 menunjukkan perkembangan positif. Indeks keanekaragaman fauna Shannon-Wiener meningkat dari 2,50 menjadi 3,20, sedangkan indeks flora naik dari 2,52 menjadi 2,67.

Pemantauan kerapatan tajuk juga menunjukkan tutupan berada pada kisaran 60-80 persen. Sepanjang periode monitoring 2014-2025, tidak ditemukan kecenderungan penurunan progresif pada tutupan tersebut.

Head of Social Investment, Policy and Communications Star Energy Geothermal, Laksmi Prasvita, mengatakan keberhasilan restorasi tidak cukup hanya diukur berdasarkan jumlah pohon yang ditanam.

Share:
Editor: Budi Setiawan
Source:
Advertisements

Baca Juga

Rekomendasi

Advertisements
HUT RI 81 - 4 HUT RI 81 - 3 HUT RI 2 HUT RI 81

Berita Populer

  1. #1
  1. #2
  1. #3
  1. #4
  1. #5
Advertisements

Berita Terbaru

Advertisements

Berita Pilihan

Advertisements

Topik Populer

  1. #1
  1. #2
  1. #3
  1. #4
  1. #5
Advertisements

Foto Terbaru

Video Terbaru

Advertisements