“Waktu itu posisi subuh, gumpek dibawa ke RS ini. Sampai di UGD ketemu perawatnya malah suruh saya pulang untuk melengkapi berkas,” lanjutnya.
Akun Malla Astutty juga membagikan pengalaman ketika menjalani perawatan akibat pendarahan di RS Handayani.
“Dulu saya waktu pendarahan dirawat di Handayani. Waktu saya transfusi darah badan menggigil luar biasa, manggil perawat sampai berkali-kali. Namun, satu tidak ada satu respon dan datang, setelah ibu saya marah-marah baru mendapat penanganan dari perawatnya,” tulisnya.
Sementara itu, akun Uan Mawan mengaku kurang puas dengan pelayanan dan penanganan di ruang UGD RS Umum Handayani.
“Untuk penanganan UGD di Rumah Sakit Umum Handayani memang sangat-sangat kurang memuaskan. Terutama dokternya, bahkan untuk menyampaikan keluhan saja tidak digubris dan tidak dengar sama sekali,” tulisnya.
Unggahan dan komentar tersebut menunjukkan isu pelayanan RS Handayani Lampung Utara menjadi perhatian masyarakat di media sosial. Namun, berbagai pengalaman yang disampaikan warganet tersebut merupakan kesaksian pribadi dan masih memerlukan verifikasi lebih lanjut.
Terpisah, Sisi selaku customer service RS Handayani Kotabumi ketika dikonfirmasi mengenai kasus tersebut memberikan penjelasan terbatas.
Ia meminta wartawan kembali pada Selasa untuk mendapatkan keterangan lebih lanjut dari pihak manajemen rumah sakit karena direktur maupun humas sedang tidak berada di tempat.
“Untuk terkait dugaan lambat penanganan seorang pasien bocah meninggal dunia itu, ke sini hari Selasa. Karena direktur atau humas lagi tidak ada di tempat,” kata Sisi saat dikonfirmasi di ruang kerjanya.
Hingga berita ini ditulis, pihak manajemen RS Handayani Kotabumi belum memberikan klarifikasi lebih lanjut terkait dugaan lambatnya penanganan pasien yang menjadi sorotan tersebut.
DPRD Lampung Utara dijadwalkan kembali menggelar pertemuan dengan mengundang keluarga pasien. Langkah tersebut diharapkan dapat mempertemukan keterangan dari kedua pihak sekaligus membuka ruang penyelesaian secara kekeluargaan.