LAMPUNG BARAT – Tim Puskesmas Sukau melakukan penyelidikan epidemiologi (PE) setelah ditemukan seorang pasien yang sementara dinyatakan suspect chikungunya di Pekon Tanjung Raya, Kecamatan Sukau, Kabupaten Lampung Barat.
Dalam kegiatan tersebut, petugas memeriksa 35 rumah warga di sekitar lokasi dan menemukan jentik nyamuk di 12 rumah. Temuan ini menjadi perhatian karena menunjukkan masih terdapat tempat yang berpotensi menjadi lokasi perkembangbiakan nyamuk.
Kegiatan PE dilakukan sebagai langkah awal untuk mengetahui kondisi lingkungan sekaligus memetakan potensi faktor risiko penyakit yang ditularkan melalui gigitan nyamuk.
Kepala Puskesmas Sukau Mahdalena, S.K.M., mengatakan pemeriksaan dilakukan di rumah-rumah warga yang berada di sekitar lokasi ditemukannya pasien suspect chikungunya.
"Dari 35 rumah yang kita periksa, ditemukan jentik nyamuk di 12 rumah. Ini menjadi perhatian kita karena keberadaan jentik menunjukkan masih terdapat tempat yang berpotensi menjadi tempat perkembangbiakan nyamuk," kata Mahdalena.
Berdasarkan hasil pemeriksaan, jentik ditemukan di sekitar sepertiga dari total rumah yang diperiksa. Kondisi tersebut mendorong Puskesmas Sukau untuk segera melakukan langkah pengendalian guna menekan potensi penularan dan mencegah munculnya faktor risiko yang lebih luas.
Mahdalena menjelaskan, tindak lanjut yang dilakukan meliputi pemberantasan sarang nyamuk (PSN) serta penaburan serbuk abate pada tempat penampungan air yang dinilai berpotensi menjadi lokasi perkembangbiakan jentik.
Selain tindakan langsung di lingkungan warga, petugas juga memberikan edukasi promosi kesehatan. Masyarakat diingatkan untuk rutin menjaga kebersihan lingkungan dengan menguras tempat penampungan air, menutup wadah air, serta menghilangkan berbagai tempat yang dapat menampung air dan berpotensi menjadi sarang nyamuk.
"Selain PSN dan pemberian abate, kita juga melakukan edukasi kepada masyarakat. Intinya bagaimana masyarakat bisa bersama-sama mencegah tempat perkembangbiakan nyamuk, karena upaya pemberantasan tidak bisa hanya dilakukan oleh petugas kesehatan," ujarnya.
Meski telah dilakukan penyelidikan epidemiologi, Mahdalena menegaskan kondisi pasien hingga kini belum dapat dipastikan mengarah pada demam berdarah dengue (DBD) atau chikungunya.
Untuk memastikan diagnosis, masih diperlukan pemeriksaan penunjang melalui laboratorium.
"Untuk sementara statusnya masih suspect chikungunya. Kita belum bisa memastikan apakah ini DBD atau chikungunya karena masih diperlukan pemeriksaan penunjang laboratorium," jelasnya.