PESISIR BARAT – Dinas Kesehatan Kabupaten Pesisir Barat (Pesbar) memastikan hingga saat ini belum ditemukan kasus suspek maupun kasus terkonfirmasi hantavirus di wilayah setempat. Meski demikian, kewaspadaan dini terus diperkuat menyusul meningkatnya perhatian terhadap penyebaran penyakit zoonosis tersebut di sejumlah daerah di Indonesia.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Pesbar, Septono, S.K.M., M.M., mengatakan berdasarkan laporan surveilans kesehatan yang diterima pihaknya, kondisi di Pesbar masih aman dari paparan hantavirus. Namun, seluruh fasilitas pelayanan kesehatan diminta tetap meningkatkan pengawasan dan kesiapsiagaan guna mengantisipasi kemungkinan munculnya kasus.
“Untuk di Kabupaten Pesbar, berdasarkan laporan surveilans kesehatan hingga saat ini belum ada kasus suspek ataupun konfirmasi terkait hantavirus,” kata Septono saat dikonfirmasi, Rabu, 21 Mei 2026.
Menurutnya, hantavirus merupakan penyakit yang perlu diwaspadai karena penularannya berasal dari hewan pengerat, terutama tikus dan celurut. Penyakit tersebut disebabkan oleh Orthohantavirus yang dapat menular kepada manusia melalui cairan tubuh hewan pembawa virus, seperti urin, feses, dan saliva, maupun debu yang telah terkontaminasi lalu terhirup manusia.
“Penyakit virus hanta merupakan zoonosis yang ditularkan dari reservoir berupa tikus dan celurut. Penularannya dapat terjadi melalui cairan tubuh hewan tersebut ataupun debu yang terkontaminasi dan terhirup oleh manusia,” jelasnya.
Ia menambahkan, risiko penularan akan meningkat pada lingkungan yang kurang bersih dan memiliki populasi tikus tinggi. Karena itu, masyarakat diminta tidak menganggap sepele keberadaan tikus di sekitar rumah maupun tempat kerja.
Sebagai langkah antisipasi, Dinas Kesehatan Kabupaten Pesbar telah melakukan berbagai upaya pengawasan dan pencegahan. Salah satunya melalui pelaksanaan surveilans kesehatan secara aktif dengan memantau tren kasus Severe Acute Respiratory Infection (SARI), Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), serta pneumonia yang memiliki kemiripan gejala dengan penyakit virus hanta tipe Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS).
Selain itu, pihaknya juga menggencarkan promosi kesehatan kepada masyarakat melalui puskesmas, rumah sakit, organisasi profesi, hingga lintas sektor terkait. Edukasi tersebut difokuskan pada peningkatan kesadaran masyarakat mengenai bahaya hantavirus serta pentingnya menjaga kebersihan lingkungan.
“Kami juga terus melakukan sosialisasi terkait pencegahan, deteksi, dan respons penyakit virus hanta kepada tenaga medis dan tenaga kesehatan di seluruh fasilitas pelayanan kesehatan dengan mengacu pada pedoman pencegahan dan pengendalian penyakit virus hanta,” katanya.
Dinas Kesehatan Pesbar juga telah melakukan koordinasi dengan rumah sakit rujukan guna memastikan kesiapan penanganan apabila sewaktu-waktu ditemukan pasien suspek hantavirus. Koordinasi serupa dilakukan dengan Unit Pelaksana Teknis (UPT) bidang kekarantinaan kesehatan untuk memperkuat kewaspadaan dini terhadap pelaku perjalanan yang berpotensi membawa risiko penularan penyakit.
“Selain itu, koordinasi dengan laboratorium kesehatan masyarakat juga terus diperkuat, terutama terkait pengelolaan spesimen pasien sesuai standar pedoman penanganan penyakit virus hanta,” jelasnya.
Septono mengatakan masyarakat perlu mengenali gejala awal hantavirus agar dapat segera memperoleh penanganan medis. Gejala awal biasanya muncul satu hingga dua minggu setelah paparan, meski dalam beberapa kasus dapat terjadi hingga delapan minggu kemudian.