BANDAR LAMPUNG – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bandar Lampung terus memperkuat upaya deteksi dini dan intervensi gizi melalui puskesmas serta posyandu sebagai langkah menekan angka stunting sejak masa kehamilan hingga anak memasuki usia balita.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Bandar Lampung, Muhtadi Arsyad Tumenggung, mengatakan deteksi dini dilakukan di seluruh puskesmas, baik puskesmas rawat jalan maupun puskesmas pembantu, dengan memeriksa status gizi masyarakat melalui pengukuran berat badan, tinggi badan, berat badan menurut umur, serta berat badan menurut tinggi badan.
"Deteksi dini dilakukan di seluruh puskesmas, baik puskesmas rawat jalan maupun puskesmas pembantu, dengan memeriksa status gizi masyarakat melalui pengukuran berat badan, tinggi badan, berat badan menurut umur, serta berat badan menurut tinggi badan," ucap Muhtadi Arsyad Tumenggung. Senin 29 Juni 2026.
Menurutnya, pemeriksaan tersebut bertujuan mengetahui sejak dini adanya masalah gizi sehingga pemerintah dapat segera memberikan intervensi yang diperlukan.
"Selain di puskesmas, deteksi dini juga dilakukan melalui kegiatan posyandu yang diselenggarakan setiap bulan. Saat ini Kota Bandarlampung memiliki 706 posyandu yang tersebar di 126 kelurahan," kata dia.
Ia menjelaskan, setiap kegiatan posyandu meliputi penimbangan berat badan, pengukuran tinggi badan, serta pemeriksaan indikator status gizi lainnya. Hasil pemeriksaan tersebut menjadi dasar bagi petugas untuk mengidentifikasi balita yang mengalami kekurangan gizi maupun berisiko mengalami stunting.
"Sebagai tindak lanjut, kader posyandu juga memberikan edukasi kepada orang tua mengenai penyusunan menu bergizi seimbang sekaligus menyediakan contoh makanan melalui program pemberian makanan tambahan (PMT)," katanya.
Selain menyasar balita, intervensi gizi juga diberikan kepada ibu hamil melalui program PMT lokal dan pemberian tablet tambah darah. Langkah ini dilakukan untuk memastikan ibu hamil memiliki kondisi gizi yang baik sehingga dapat melahirkan bayi yang sehat.
"Pencegahan stunting harus dilakukan secara berkesinambungan mulai dari masa kehamilan, kelahiran hingga anak memasuki usia balita. Kalau kondisi gizi ibu tidak baik saat hamil, bayi yang dilahirkan juga berisiko mengalami masalah gizi. Karena itu, penanganannya harus dilakukan berdasarkan siklus kehidupan, dimulai sejak ibu hamil," katanya.
Muhtadi mengungkapkan, pada 2024 terdapat 47 balita stunting dari 207 balita yang diperiksa atau setara 22,7 persen. Sementara pada 2025 jumlah balita stunting menurun menjadi sekitar 40 balita dengan prevalensi sekitar 15 persen.
"Jadi, dari 2024 ke 2025 ini kan ada penurunan. Harapan di 2026 ini akan terjadi penurunan yang lebih baik lagi," ujarnya.
Ia berharap Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dari pemerintah pusat dapat memberikan dampak positif terhadap peningkatan status gizi bayi, balita, dan ibu hamil.