“Dan pemerintah harus memahami bahwa kemudahan berusaha tidak boleh berubah menjadi kemudahan untuk mengabaikan lingkungan,” kata Benny.
Benny menilai indikator keberhasilan pemerintah tidak semestinya hanya dilihat dari jumlah investasi, peningkatan produksi industri maupun banyaknya kegiatan administratif yang dilakukan.
Menurut dia, pembangunan baru dapat dikatakan berhasil apabila pertumbuhan ekonomi dan kegiatan industri berlangsung tanpa memindahkan risiko lingkungan kepada masyarakat.
“Pada akhirnya, ukuran keberhasilan pemerintah bukan seberapa banyak izin yang diterbitkan, seberapa tinggi produksi industri, atau seberapa banyak seremoni dilakukan,” ujarnya.
“Ukuran keberhasilan negara adalah ketika industri tetap tumbuh, ekonomi tetap bergerak, lapangan kerja tetap tersedia, tetapi rakyat tidak dipaksa membayar ongkos pertumbuhan itu dengan udara yang tercemar,” lanjut Benny.
Ia menilai apabila perusahaan memperoleh manfaat ekonomi sementara masyarakat harus menanggung risiko pencemaran, prinsip keseimbangan pembangunan telah terganggu.
“Karena kalau industri mendapatkan keuntungan sementara masyarakat mendapatkan debu, maka yang terjadi bukan keseimbangan pembangunan. Itu namanya keuntungan diprivatisasi, sementara risikonya disosialisasikan kepada rakyat,” tegasnya.
Benny meminta pemerintah memastikan sumber pencemaran dikendalikan, lingkungan dipulihkan, data dibuka, dan aturan ditegakkan sebelum aktivitas produksi kembali berjalan normal.
“Hentikan dampaknya. Pulihkan lingkungannya. Buka datanya. Tegakkan hukumnya. Pastikan sistem pengendaliannya benar-benar berfungsi. Setelah itu, silakan produksi kembali—dengan standar kepatuhan yang tidak bisa ditawar,” katanya.
Benny kembali menegaskan masyarakat membutuhkan kehadiran pemerintah dalam bentuk tindakan nyata, bukan sekadar respons administratif.
Menurutnya, persoalan debu di sekitar kawasan PT Semen Baturaja harus menjadi momentum untuk memperlihatkan bahwa perlindungan lingkungan dapat berjalan beriringan dengan keberlangsungan industri.
“Jangan sampai negara terlihat sangat sibuk bekerja di atas meja, tetapi persoalan rakyat tetap bekerja di paru-paru mereka. Itu bukan tata kelola pemerintahan. Itu hanya administrasi yang kehilangan keberanian untuk bertindak,” ujar Benny.