Salah satu keunggulan motor 2-tak adalah karakter tenaganya yang responsif.
Berbeda dengan mesin 4-tak, mesin 2-tak menyelesaikan satu siklus pembakaran dalam dua langkah piston.
Konstruksinya juga memiliki komponen yang relatif lebih sedikit dibandingkan mesin 4-tak.
Pada Suzuki Bravo, karakter tersebut semakin terasa karena kapasitas mesinnya hanya sekitar 100 cc dengan bobot kendaraan yang ringan.
Kombinasi tersebut membuat Bravo memiliki respons mesin yang menjadi ciri khas motor bebek 2-tak pada zamannya.
Tidak mengherankan jika motor ini dahulu cukup digemari untuk penggunaan harian sekaligus menarik perhatian penggemar performa motor bebek.
Era 1980-an hingga 1990-an merupakan periode persaingan ketat di pasar motor bebek Indonesia.
Suzuki RC100 menjadi salah satu pemain penting di kelas tersebut. Motor ini juga pernah bersinggungan dengan Yamaha Alfa dalam persaingan motor bebek 100 cc dan dunia balap underbone.
Catatan sejarah komunitas RC menyebut RC100 memiliki karakter perpindahan gigi yang halus serta pengendalian yang lincah.
Ketika berbagai model baru mulai bermunculan, Suzuki tetap mempertahankan keluarga RC100 hingga akhirnya RC Bravo hadir sebagai penyegaran terakhir.
Ada sejumlah faktor yang membuat Suzuki Bravo tetap menarik di mata penggemar motor klasik.