Irfan juga menyoroti kondisi lapangan di TNWK yang memiliki kawasan bergambut, sulit dijangkau, serta berada jauh dari sumber air.
Menurutnya, karakteristik tersebut seharusnya menjadi dasar bagi pemerintah dalam membangun sistem mitigasi kebakaran yang lebih kuat dan terukur.
“Kondisi itu seharusnya jadi dasar membangun sistem mitigasi yang kuat, bukan jadi penjelasan setelah kebakaran terjadi,” katanya.
WALHI menilai penanganan kebakaran tidak boleh hanya bertumpu pada respons ketika api telah muncul dan meluas.
Sistem peringatan dini, patroli, pemantauan titik rawan, hingga kesiapan sumber daya di lapangan dinilai perlu menjadi bagian dari strategi pencegahan.
Kebakaran di kawasan TNWK juga dinilai memiliki risiko serius terhadap kelestarian satwa liar.
Taman Nasional Way Kambas merupakan salah satu kawasan penting bagi habitat gajah sumatra, badak sumatra, serta berbagai jenis satwa liar lainnya.
“Setiap kebakaran berpotensi menghilangkan tutupan vegetasi, sumber pakan, tempat berlindung dan ruang jelajah satwa,” jelas Irfan.
Menurut WALHI, dampak kebakaran terhadap satwa tidak bisa hanya diukur berdasarkan ada atau tidaknya satwa yang ditemukan mati akibat api.
Meski tidak ada satwa yang terdampak langsung, perubahan kondisi habitat tetap dapat menimbulkan persoalan dalam jangka panjang.
“Kebakaran bisa sebabkan fragmentasi habitat dan mendorong satwa ke desa penyangga. Dalam jangka panjang ini meningkatkan risiko konflik manusia dan satwa liar,” ujarnya.
WALHI Lampung juga menolak jika kebakaran di kawasan Way Kambas hanya dijelaskan sebagai dampak cuaca panas dan musim kemarau.