Untuk sulfur atau belerang, kandungannya dapat berada pada kisaran 0,16 persen hingga 13,5 persen. Unsur tersebut juga menjadi salah satu faktor yang membuat abu vulkanik yang masih baru memiliki tingkat keasaman cukup tinggi.
Ketut menyebut abu vulkanik yang baru turun dapat memiliki pH sekitar 3,5 hingga 4,8 pada awal erupsi. Karena itu, material tersebut tidak bisa serta-merta diperlakukan seperti pupuk.
“Karena itu, abu vulkanik yang baru turun juga tidak bisa langsung dianggap sebagai pupuk yang bisa digunakan begitu saja. Kandungan dan sifatnya perlu diperhatikan, terutama tingkat keasamannya,” tegasnya.
Sementara itu, kandungan kalium oksida (KâO) dapat berada pada kisaran 0,27 persen hingga 3,26–5,23 persen. Magnesium oksida (MgO) berkisar 0,1 persen hingga 1,9 persen, sedangkan fosfor pentoksida (PâOâ ) berada pada kisaran 0,01 persen hingga 1,91–5,89 persen.
Beragam kandungan mineral tersebut menunjukkan abu vulkanik berpotensi memberikan kontribusi terhadap kondisi tanah. Namun, manfaatnya tidak serta-merta dapat dirasakan tanaman dalam waktu singkat.
“Yang paling penting adalah bagaimana kita memahami karakter abu vulkanik tersebut. Tidak semua kandungannya langsung tersedia bagi tanaman. Proses pelapukan dan interaksi dengan tanah membutuhkan waktu. Jadi manfaatnya lebih tepat dilihat sebagai tambahan mineral alami dalam jangka panjang,” pungkasnya.
Dengan demikian, abu vulkanik yang mencapai Lampung Barat tidak tepat jika langsung disebut sebagai pupuk alami siap pakai. Material tersebut lebih tepat dipandang sebagai sumber mineral yang membutuhkan proses alami sebelum sebagian unsur di dalamnya dapat tersedia bagi tanaman.
Di sisi lain, masyarakat tetap perlu mengutamakan kesehatan dan keselamatan ketika terjadi hujan abu vulkanik. Partikel abu yang masih beterbangan dapat mengganggu saluran pernapasan dan kesehatan mata.
Penggunaan masker, pelindung mata, serta menghindari paparan langsung menjadi langkah penting ketika kondisi udara dipenuhi abu vulkanik.