Pada Senin pagi, sejumlah bandara masih mengalami dampak sebaran abu vulkanik.
Reuters melaporkan delapan bandara di Indonesia masih terdampak pada awal Senin, termasuk bandara di Jakarta, Lampung dan Jawa Barat.
Dampak tersebut juga dirasakan di Bandara Internasional Radin Inten II Lampung.
Dalam pengumuman resmi pada Senin 07 September 2026, operasional penerbangan di Bandara Radin Inten II dihentikan sementara hingga pukul 18.00 WIB sehubungan dengan meningkatnya aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau.
Pengelola bandara mengimbau calon penumpang mengecek kembali status dan jadwal penerbangan melalui kanal resmi maskapai sebelum melakukan perjalanan.
Kondisi tersebut penting diperhatikan karena pergerakan abu vulkanik dapat berubah mengikuti dinamika atmosfer.
Jadwal penerbangan yang sebelumnya tersedia juga dapat mengalami penundaan, perubahan maupun pembatalan.
Sebelumnya, BMKG mengidentifikasi melalui analisis citra satelit adanya dua klaster sebaran abu vulkanik yang melingkupi wilayah Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat hingga Bengkulu.
Pemantauan terhadap aktivitas Gunung Anak Krakatau dan dampaknya terhadap atmosfer, penerbangan serta kondisi laut di sekitar Selat Sunda dilakukan secara intensif selama 24 jam.
Kementerian Perhubungan juga terus mengevaluasi perkembangan sebaran abu vulkanik dan kondisi cuaca karena arah pergerakannya dapat berubah secara dinamis.
Selain menggunakan data pengamatan gunung api dan atmosfer, pemantauan dilakukan melalui citra satelit untuk melihat perkembangan sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau.
Dengan kondisi atmosfer yang dinamis, masyarakat diminta tidak hanya mengandalkan satu kali informasi, tetapi terus mengikuti pembaruan resmi BMKG dan instansi terkait.