Menurutnya, posisi hilal saat pemantauan telah memenuhi kriteria visibilitas hilal MABIMS yang menjadi kesepakatan negara-negara Asia Tenggara.
“Data astronomi menunjukkan posisi hilal sudah memenuhi syarat imkan rukyat. Karena itu hasil rukyat yang diterima malam ini memperkuat penetapan awal Dzulhijjah,” ujarnya.
Pada kesempatan yang sama, Menteri Agama mengajak umat Islam menjadikan Idul Adha sebagai momentum memperkuat keimanan, kepedulian sosial, dan semangat berbagi melalui ibadah kurban.
Ia juga mengimbau masyarakat menyambut bulan Dzulhijjah dengan memperbanyak amal saleh, baik ibadah personal maupun sosial.
“Semoga keputusan ini menjadi awal yang baik untuk memulai ibadah Dzulhijjah, kurban, dan ibadah lainnya. Semoga Allah menerima ibadah kita semuanya,” ucap Nasaruddin Umar.
Sidang isbat penetapan awal Dzulhijjah 1447 H diawali dengan seminar posisi hilal yang terbuka untuk umum. Dalam forum tersebut, Tim Hisab Rukyat Kementerian Agama memaparkan kondisi astronomi hilal di seluruh wilayah Indonesia.
Setelah seminar, sidang dilanjutkan secara tertutup bersama para ulama dan perwakilan organisasi Islam sebelum akhirnya keputusan resmi diumumkan kepada publik.
Selain itu, Kementerian Agama juga melakukan pemantauan hilal di berbagai titik strategis di Indonesia dengan melibatkan kantor wilayah Kemenag, pengadilan agama, organisasi Islam, serta para ahli astronomi daerah.
Dengan keputusan ini, umat Muslim di Indonesia dapat mulai mempersiapkan rangkaian ibadah Idul Adha 1447 H, mulai dari puasa sunnah Dzulhijjah, puasa Arafah, pelaksanaan salat Idul Adha, hingga penyembelihan hewan kurban pada 27 Mei 2026 mendatang.