“Kami berharap kader dapat membantu meningkatkan persentase D/S dan K1 di wilayah masing-masing. Semakin banyak sasaran yang terjaring, maka semakin besar peluang kita untuk melakukan intervensi lebih dini terhadap balita maupun ibu hamil yang mengalami masalah gizi,” jelasnya.
Gigih menambahkan, persoalan gizi masih menjadi tantangan serius yang membutuhkan kerja sama lintas sektor, termasuk dukungan masyarakat dan aparatur pekon.
Dalam kegiatan tersebut, para peserta juga mendapatkan materi terkait penyusunan menu PMT berbasis pangan lokal, teknik pengolahan makanan sehat dan higienis, hingga evaluasi pelaksanaan program yang telah berjalan.
“Para kader diberi kesempatan berdiskusi dan menyampaikan berbagai kendala yang dihadapi di lapangan, mulai dari rendahnya partisipasi masyarakat hingga pola konsumsi keluarga yang masih kurang memperhatikan asupan gizi seimbang,” ungkapnya.
Ia berharap para kader posyandu dapat semakin aktif mengedukasi masyarakat mengenai pentingnya pemenuhan gizi keluarga dengan memanfaatkan bahan pangan lokal yang tersedia di sekitar lingkungan tempat tinggal.
“Harapan kami, kader posyandu tidak hanya menjadi pelaksana kegiatan, tetapi juga mampu menjadi agen perubahan di tengah masyarakat. Edukasi mengenai pentingnya gizi seimbang harus terus disampaikan agar angka masalah gizi pada balita dan ibu hamil dapat ditekan,” pungkasnya.