“Energi dari sampah sangat potensial dikembangkan karena pertumbuhan volume sampah di Lampung terus meningkat,” katanya.
Tak hanya sektor energi, pembahasan juga mencakup peluang pengembangan kawasan industri baru di Lampung.
Posisi Lampung yang dekat dengan Jakarta dan memiliki pelabuhan laut dalam dinilai strategis untuk mendukung hilirisasi komoditas dari wilayah Sumatera bagian selatan.
“Lampung sangat strategis untuk mendukung distribusi dan hilirisasi komoditas Sumatera bagian selatan karena memiliki pelabuhan laut dalam,” tambahnya.
Mirza berharap kerja sama dengan Citaglobal Berhad dapat menjadi pintu masuk investasi Malaysia di sektor-sektor strategis Lampung guna mendukung transformasi ekonomi daerah berbasis hilirisasi dan industri bernilai tambah.
Sementara itu, Tan Sri Dato' Sri Mohamad Norza Zakaria memaparkan pengalaman perusahaan mereka dalam pengembangan energi hijau dan infrastruktur di Malaysia.
Saat ini, Citaglobal mengembangkan berbagai proyek clean energy seperti floating solar, biogas, Waste to Energy, telekomunikasi, hingga konstruksi.
Ia menyebut perusahaan tersebut tengah mengembangkan proyek floating solar berkapasitas 200 megawatt di Malaysia serta terlibat dalam penyediaan energi hijau untuk proyek jalur kereta East Coast Rail Link.
Di sektor lingkungan, Citaglobal juga mengembangkan teknologi Waste to Energy asal Jerman yang mampu mengolah sampah menjadi sumber energi baru.
Selain itu, perusahaan tersebut bekerja sama dengan Keppel dalam proyek biogas berbasis limbah kelapa sawit atau Palm Oil Mill Effluent (POME).
“Gas hasil pengolahan itu nantinya diekspor ke Singapura untuk kebutuhan pembangkit listrik,” ujar Norza.
Dalam kesempatan tersebut, dilakukan pula penandatanganan MoU antara PT. Lampung Jasa Utama dan Citaglobal Environment Management Sdn Bhd untuk menjajaki pengembangan Kawasan Eko-Industri (Eco-Industrial Park) di Lampung.